LPS_MTs 1 Putri Annuqayah
Pagi di halaman MTs 1 Putri Annuqayah selalu punya cara sendiri untuk mencatat sejarah. Matahari baru saja mengintip dari balik rindang pepohonan, sementara embun masih membasahi dedaunan yang gugup menanti hiruk-pikuk kegiatan sekolah. Pada Kamis pagi, pukul 06.30 hingga 07.00 WIB, halaman itu menjadi saksi sebuah momen penting: peluncuran Majalah Aurora edisi 7 nomor 6 tahun 2025. Majalah yang sejak awal digagas sebagai rumah gagasan dan ladang kreativitas ini kembali menyapa pembaca dengan semangat baru, warna baru, dan cita rasa literasi yang kian matang.
Acara launching yang digelar dalam suasana sederhana namun penuh makna itu dipimpin langsung oleh Pembina Lembaga Pers Siswa (LPS) MTs 1 Putri Annuqayah, Bapak Ahmad Muhli Junaidi. Dengan langkah mantap dan suara yang tertata, beliau membuka acara dengan pengantar penuh motivasi. Di hadapan para pengurus LPS, para penulis muda, dan siswa-siswi yang telah hadir sejak pagi, Pak Muhli mengingatkan bahwa Aurora bukan sekadar majalah sekolah; ia adalah ruang pembuktian. Tempat di mana siswa belajar mengenali dirinya, menimba pengalaman menulis, serta menyalakan lentera literasi di tengah budaya digital yang serbainstan.

Menurut beliau, majalah yang terus terbit secara konsisten adalah tanda bahwa semangat menulis di kalangan siswa terus bernapas. “Majalah Aurora hanya bisa hidup bila kalian menulis,” tegasnya. “Majalah ini terbit karena tekad, ketekunan, dan kerja sama. Terbit karena ada yang mau menulis, mau belajar, mau memperjuangkan ide.” Kalimat itu menggema di antara deretan siswi yang mendengarkan sambil merapikan seragam, seolah setiap katanya menjadi percikan api yang menyalakan kembali keinginan untuk berkarya.
Launching kali ini terasa lebih istimewa karena menghadirkan mantan Pimpinan Redaksi Aurora, Jazielatul Athiyah, atau yang akrab disapa Cila. Tahun-tahun sebelumnya, Cila menjadi salah satu motor utama yang mendorong majalah ini tetap hidup, terbit, dan dihormati sebagai sumber bacaan berkualitas di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah. Meski telah menyerahkan tongkat estafet kepada generasi baru, kehadirannya menghangatkan suasana. Seolah Aurora sedang menyapa masa lalunya sendiri, mengajaknya kembali untuk menyaksikan masa depan yang sedang dibangun.
Dalam sambutannya, Cila menyampaikan pesan sederhana tetapi sangat mendasar bagi dunia kepenulisan: “Jangan lupakan membaca, sebab bekal menulis itu adalah membaca.” Ucapannya meluncur pelan namun tegas, seperti nasihat guru pada muridnya, atau sahabat pada sahabatnya. Ia bercerita singkat tentang pengalamannya selama memimpin Aurora—bagaimana ia belajar memahami ritme redaksi, menyunting tulisan, berhadapan dengan tenggat waktu, dan menjaga kualitas sekaligus keunikan majalah.
Bagi Cila, Aurora bukan hanya kumpulan artikel dan gambar. Ia adalah perjalanan. Perjalanan menemukan diri, menemukan suara, dan menemukan dunia yang lebih luas melalui tulisan. Pesan tersebut memberi makna tersendiri bagi para anggota baru LPS, yang kini tengah memulai babak baru pengabdian mereka di dunia jurnalistik pelajar. Mereka mendapatkan contoh nyata bahwa menjadi bagian dari Aurora berarti belajar mengelola gagasan, belajar menjadi kritis, dan belajar bekerja dalam tim.
Acara berjalan dengan rapi dan penuh kehangatan. Pembina LPS mempersilakan redaksi baru untuk memperkenalkan diri, lalu memperlihatkan secara simbolis sampul Aurora edisi terbaru. Tepuk tangan terdengar membahana ketika sampul itu diangkat: sebuah karya desain yang memadukan warna lembut, tipografi elegan, dan pesan kuat tentang dunia literasi. Sampul itu seolah berkata bahwa Aurora edisi kali ini tidak sekadar terbit, tetapi membawa harapan baru bagi perjalanan literasi di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah.
Meski waktu sangat singkat—hanya setengah jam—acara terasa padat dan sarat makna. Para pengurus LPS tampak bangga dengan hasil kerja keras mereka. Beberapa siswa terlihat memegang majalah baru itu dengan tatapan berbinar. Ada yang membolak-balikkannya, mencari nama mereka yang mungkin tercantum dalam daftar kontributor; ada pula yang membaca bagian pembuka dengan senyum samar, seolah menemukan dirinya di antara tulisan-tulisan itu.
Pak Muhli kembali menegaskan makna penting majalah sekolah. “Teruslah menulis,” katanya. “Menulislah dengan tekun. Dengan menulis, majalah ini akan tetap hidup. Dan ketika majalah ini hidup, berarti kalian telah menghidupkan tradisi intelektual di sekolah ini.” Bagi beliau, literasi bukan hanya soal menuangkan kata ke dalam paragraf, tetapi juga soal keberanian mengemukakan gagasan, kemampuan mengolah informasi, serta kemauan memperbaiki diri melalui tulisan.
Dalam dunia pendidikan modern yang serba cepat, pesan itu menjadi pengingat berharga. Menulis membutuhkan kesabaran; membaca membutuhkan kedalaman. Di tengah banjir informasi digital, keberadaan majalah sekolah seperti Aurora justru menjadi oase. Ia menjadi bukti bahwa generasi muda masih mampu memproduksi pemikiran, bukan hanya mengonsumsi. Ia menjadi tanda bahwa mereka masih sanggup merawat tradisi literasi di lingkungan pesantren yang penuh nilai dan disiplin.
Sebelum acara ditutup, Cila sempat berbincang singkat dengan beberapa pengurus LPS. Ia memberikan tips mengenai konsistensi jadwal penulisan, cara mengembangkan tema liputan, hingga menjaga semangat tim redaksi agar tetap kompak. Sementara itu, Pak Muhli mengajak seluruh pengurus untuk terus belajar dari pengalaman senior, tetapi juga tidak takut berinovasi dan memperbarui format majalah sesuai perkembangan zaman.
Ketika pukul 07.00 tiba, acara resmi ditutup. Siswa-siswa kemudian diarahkan untuk bersiap mengikuti kegiatan belajar berikutnya. Namun nuansa pagi itu terasa berbeda. Ada cahaya kecil yang seolah menyala di halaman sekolah; cahaya yang mungkin berasal dari semangat para penulis muda yang baru saja mendapatkan motivasi dan teladan. Aurora telah kembali terbit—dan bersama para siswi MTs 1 Putri Annuqayah, ia siap menyongsong perjalanan baru.

Launching edisi 7 nomor 6 ini bukan hanya tentang peresmian sebuah majalah. Ia adalah penanda bahwa tradisi literasi masih terjaga dengan baik. Ia adalah panggilan bagi generasi muda untuk terus menulis, terus membaca, dan terus menghadirkan karya terbaik bagi sekolah yang telah melahirkan begitu banyak penulis muda berbakat.
Pada pagi itu, Aurora bukan sekadar nama. Ia adalah cahaya. Cahaya yang menyingsing di halaman pesantren, menyapa dunia dengan lembut, namun tegas: bahwa kata-kata tidak akan pernah padam selama ada yang bersedia merawatnya.@ (Red.Zevy)
Berikan komentar anda