Wali putra

Kamis, 16 April 2026

Memperkuat Sinergi Madrasah dan Orang Tua: Catatan dari Temu Wali ke-19 MTs 1 Putri Annuqayah

LPS-MTs 1 Putri Annuqayah  

GULUK-GULUK – Aula Asy-Syarqawi Universitas Annuqayah menjadi saksi bisu kehangatan silaturahmi antara pengelola madrasah dan orang tua siswa dalam acara Temu Wali Siswa Kelas IX ke-19 MTs 1 Putri Annuqayah. Acara yang berlangsung pada Ahad  pagi ini dimulai tepat pukul 07.30 hingga 11.30 WIB, membawa misi penting dalam menyelaraskan langkah pendidikan di penghujung masa studi siswa kelas IX.

Sidang atau musyawarah di temu wali ke-19. Paling kiri: Pak Annas, Pak Makmun, Pak Ismael (Foto dok. LPS)

Pertemuan wali kelas IX  ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan momentum krusial bagi madrasah untuk mempertanggungjawabkan amanah pendidikan kepada para wali siswa, sekaligus mempersiapkan mentalitas siswi menghadapi rangkaian ujian akhir yang sudah di depan mata.

Acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran, lalu sholawat nabi, dan menyanyikan lagu nasional Indonesia Raya. Kemudian, sambutan disampaikan Bapak Ismail, S.Pd.I., selaku Wakil Kepala Madrasah (Wakamad) Bidang Kurikulum. Beliau hadir mewakili Kepala MTs 1 Putri Annuqayah, Ny. Hj. Ulfatul Hasna’, S.Ag., yang pada kesempatan tersebut kurang enak badan namun tetap hadir.

Dalam sambutannya yang penuh khidmat, Pak Ismail membuka dengan ungkapan apresiasi yang mendalam kepada para wali siswa yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka. Beliau juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan acara di gedung universitas tersebut.

Para wali putra dan putri di Temu Wali ke-19 (Foto dok. LPS)

"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam penyambutan maupun suguhan yang kami sajikan terdapat kekurangan. Niat kami adalah memberikan yang terbaik bagi Bapak dan Ibu sekalian," ujar Pak Ismail rendah hati.

Poin utama yang disampaikan beliau berkaitan dengan kalender akademik kelas IX. Siswi saat ini sedang berada di fase krusial dengan adanya berbagai ujian akhir, seperti Tes Kompetensi Akademik (TKA), Asesmen Madrasah (AM), dan ujian-ujian lainnya. Pak Ismail menekankan bahwa keberhasilan nilai siswa tidak hanya ditentukan di bangku kelas, tapi juga di meja belajar rumah.

Salah satu perhatian serius yang disampaikan adalah mengenai pengawasan penggunaan handphone (HP). Beliau mengingatkan bahwa di balik kecanggihannya, HP membawa mudarat yang signifikan jika tidak diawasi secara ketat oleh orang tua.

"Kami di madrasah berusaha maksimal membekali putri-putri Bapak/Ibu dengan kemampuan afektif, kognitif dan psikomotorik. Namun, semua itu bisa luntur jika selama libur panjang Ramadhan nanti mereka lepas kendali dalam menggunakan HP. Kami titip, jangan sampai apa yang kami rawat dengan susah payah di madrasah, hilang begitu saja selama libur nanti," tegasnya.

Sambutan kedua disampaikan oleh tokoh sentral Annuqayah, KH. Abbadi Ishomuddin, selaku Ketua Yayasan Annuqayah. Beliau membawa perspektif manajerial dan nilai-nilai luhur kepesantrenan ke dalam forum tersebut.

Kiai Abbadi menjelaskan bahwa peningkatan kualitas akademik di sekolah formal merupakan tanggung jawab penuh Yayasan Annuqayah. Untuk memastikan kualitas pelayanan guru tetap optimal dan fasilitas tetap terjaga, Yayasan mengambil kebijakan untuk menarik SPP sebesar Rp50.000,00 per bulan.

Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Tujuan utamanya adalah:

* Meringankan beban finansial yayasan dalam pengelolaan operasional yang semakin kompleks.

* Meningkatkan mukafaah (kesejahteraan) guru. Dengan kesejahteraan yang lebih baik, diharapkan guru dapat memberikan dedikasi dan performa mengajar yang lebih maksimal bagi para siswi.

Beliau juga menyelipkan pesan moral yang mendalam. Kiai Abbadi berharap agar para siswi MTs 1 Putri Annuqayah, di mana pun mereka berada nantinya setelah lulus, tetap memegang teguh nilai-nilai ma’ruf Annuqayah. Karakter santri yang berakhlakul karimah harus menjadi identitas yang melekat permanen, bukan sekadar identitas saat masih mengenakan seragam madrasah.

Memasuki agenda inti, acara dilanjutkan dengan Sidang Kemadrasahan yang dipimpin oleh Bapak Annas, S.Pd.I. Sidang yang berlangsung selama 60 menit ini menjadi ajang transparansi antara pihak madrasah dan wali murid.

Dalam sesi ini, Pak Annas memaparkan secara detail mengenai:

* Kebutuhan sarana prasarana siswa.

* Evaluasi tata tertib madrasah.

* Fenomena pelanggaran siswa yang terjadi selama satu tahun terakhir beserta solusi penanganannya.

Sidang ini berlangsung dinamis dengan adanya tanggapan dari tiga orang wali siswa (dua laki-laki dan satu perempuan). Ketiga penanggap tersebut membawa nada yang serupa: rasa syukur dan permohonan maaf.

"Kami menyadari bahwa mendidik anak perempuan di zaman sekarang tidaklah mudah. Kami berterima kasih atas kesabaran para guru dan memohon maaf jika anak-anak kami sering merepotkan selama tiga tahun ini," ungkap salah satu wali murid pria.

Para wali perempuan di Temu Wali ke-19 (Foto dok. LPS)

Namun, para wali siswa juga memberikan catatan kritis yang membangun. Mereka mengingatkan bahwa di tengah perkembangan zaman yang sangat cepat, metode pembelajaran dan pendekatan psikologis terhadap siswa juga harus terus diperbarui. Guru diharapkan tidak hanya mengajar secara konvensional, tetapi juga mampu menjadi kawan bicara yang memahami dinamika mental generasi alpha.

Tanggapan-tanggapan tersebut kemudian dijawab secara komprehensif oleh Bapak Annas, Bapak Ismail, dan Ibu Hj. Roziqoh, S.Pd.I. Pihak madrasah berkomitmen untuk terus melakukan upgrading kompetensi guru agar tetap relevan dengan tantangan zaman.

Menjelang tengah hari, suasana aula menjadi hening dan penuh haru saat Kiai Waheb Akib memimpin doa bersama. Lantunan doa dipanjatkan demi kelancaran ujian para siswi, keberkahan ilmu yang telah didapat, serta keselamatan bagi seluruh keluarga besar Annuqayah.

Tepat pukul 11.30 WIB (dan rangkaian ramah tamah berakhir hingga pukul 12.30 WIB), acara resmi ditutup oleh pembawa acara (MC) yang luar biasa merupakan perwakilan dari siswi kelas IX sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa MTs 1 Putri Annuqayah tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk melatih kepemimpinan dan kepercayaan diri di depan publik.

Temu Wali ke-19 ini berakhir dengan jabat tangan erat, menyimbolkan bahwa pendidikan anak adalah tugas kolektif. Madrasah menyemai benih, orang tua menjaga tanahnya, dan lingkungan memastikan cahayanya cukup agar kelak putri-putri Annuqayah tumbuh menjadi pohon yang rindang dan berbuah manis.@ (Amjun, Rep. Nabila)

 

Berikan komentar anda

Ayo gabung!!!

Penerimaan Peserta Didik Baru

Kontak Kami Whatsapp