Sang ketua Panitia, Azzariva.

Jumat, 17 April 2026

Lembaga Pers Siswa MTs 1 Putri Annuqayah Gelar Workshop Kepenulisan: Menulis Esai hingga Puisi Bersama Dua Narasumber Inspiratif

Guluk-Guluk, Annuqayah – Suasana kelas VII Blessing MTs 1 Putri Annuqayah tampak berbeda pada Ahad dan Rabu, 26 dan 29 Oktober 2025. Di ruangan yang biasanya digunakan untuk proses belajar mengajar itu, tampak puluhan siswa duduk dengan wajah penuh semangat. Mereka mengikuti Workshop Kepenulisan yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Siswa (LPS) MTs 1 Putri Annuqayah masa hikmah 2025/2026.

Kiai Faizi  bersama pembina LPS MTs 1 Putri Annuqayah (Foto. Dok. LPS)

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada Ahad, 26 Oktober 2025, dan dilanjutkan pada Rabu, 29 Oktober 2025, dari pukul 10.00 hingga 12.30 WIB. Workshop ini mengusung semangat untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan madrasah serta membentuk generasi penulis muda yang kritis, kreatif, dan beretika.

Pembukaan yang Hangat dan Bermakna

Acara pembukaan berlangsung khidmat. Sebelum dimulai, hadirin bersama-sama membaca Ummul Kitab yang dipimpin oleh Sila, salah satu anggota LPS. Suasana religius terasa menenangkan dan memberi keberkahan tersendiri bagi jalannya kegiatan.

Nyai Ulfatul Hasna' sedang memberikan kata sambutan di acara penutupan (Foto dok. LPS)

Acara kemudian dipandu oleh Zhifa yang bertugas ganda sebagai MC sekaligus moderator. Dengan gaya bicara yang percaya diri dan hangat, Zhifa membuka acara dan memperkenalkan para tamu undangan serta susunan kegiatan.

Sambutan pertama disampaikan oleh ketua panitia, Azzariva, yang dengan penuh semangat menceritakan proses persiapan acara. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kerja keras seluruh panitia LPS yang ingin memberikan ruang ekspresi bagi siswa dalam dunia tulis-menulis.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan semangat menulis di kalangan siswa. Karena menulis adalah bagian dari perjuangan menyuarakan kebenaran dan keindahan,” ujar Azzariva dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan peserta.

Setelah itu, sambutan berikutnya disampaikan oleh Ibu Hj. Roziqoh, S.Pd.I., yang hadir mewakili Kepala Madrasah, Ibu Hj. Nyai Ulfatul Hasna’, S.Ag. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi kerja keras panitia dan menegaskan pentingnya kegiatan literasi sebagai bagian dari pembentukan karakter santri.

“Menulis bukan sekadar menyusun kata, tetapi menyusun makna dan nilai-nilai kehidupan. Siswa MTs 1 Putri Annuqayah harus bisa menjadi penulis yang berjiwa santri, yang setiap tulisannya memantulkan cahaya kejujuran, kecerdasan, dan akhlak,” ungkapnya dengan suara penuh keteduhan.

Hari Pertama: Menulis Esai dan Opini Bersama Habibullah Salman, M.Ag.

Bapak Habibullah Salman beserta Pembina LPS dan Ketua LPS (Foto dok. LPS)

Kegiatan inti di hari pertama dimulai dengan pemaparan materi oleh Bapak Habibullah Salman, M.Ag., seorang akademisi muda sekaligus penulis esai dan opini yang dikenal luas di lingkungan pesantren dan media lokal-nasional.

Dengan gaya penyampaian yang santai namun sarat makna, beliau menjelaskan “Cara-Cara Menulis Esai atau Opini” secara sistematis. Beliau mengawali materinya dengan membedakan antara opini dan esai, serta menguraikan peran penting keduanya dalam kehidupan intelektual dan sosial.

“Menulis opini berarti menggerakkan pikiran pembaca, sedangkan menulis esai berarti mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam,” tutur beliau.

Bapak Habibullah menegaskan bahwa seorang penulis harus berani menulis gagasan, meskipun sederhana, selama gagasan itu disampaikan dengan kejujuran intelektual. Ia juga menekankan pentingnya struktur tulisan yang rapi: mulai dari judul yang menarik, pendahuluan yang memancing rasa ingin tahu, isi yang logis dan padat, hingga penutup yang menyentuh atau menyadarkan pembaca.

Dalam sesi interaktif, beberapa peserta mengajukan pertanyaan menarik. Salah satunya datang dari Rania, yang bertanya bagaimana cara menulis opini agar tidak terjebak pada bahasa yang terlalu akademis. Bapak Habibullah menjawab dengan ramah:

“Gunakan bahasa yang hidup. Menulis untuk publik bukan berarti harus berat. Justru yang ringan, jelas, dan jujur seringkali lebih menggugah.”

Workshop hari pertama ditutup dengan latihan menulis singkat. Para peserta diminta membuat opini pendek tentang tema “Peran Siswa dalam Menjaga Tradisi Literasi di Madrasah.” Hasil tulisan dikumpulkan untuk mendapatkan masukan langsung dari pemateri.

Hari Kedua: Menyelami Dunia Puisi Bersama Kiai M. Faizi, M.Hum.

Suasana haru dan antusias kembali terasa pada Rabu, 29 Oktober 2025, ketika Kiai M. Faizi, M.Hum., hadir sebagai narasumber kedua. Nama beliau sudah sangat dikenal luas, tidak hanya di Annuqayah, tetapi juga di dunia sastra Indonesia. Beliau dikenal sebagai penyair, penerjemah, sekaligus kiai yang karya-karyanya memadukan kedalaman spiritual dengan keindahan bahasa.

Antusiasme peserta pelatihan (Foto LPS)

Materi yang dibawakan berjudul “Tips-Tips Menulis Sastra.” Dalam paparannya, Kiai Faizi memulai dengan sebuah kalimat yang membuat ruangan hening:

“Puisi bukan sekadar kata indah, tetapi napas kejujuran yang menyalakan jiwa.”

Beliau kemudian membimbing peserta untuk memahami hakikat puisi: bahwa menulis puisi berarti menulis dengan hati, bukan hanya dengan kepala. Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk menjadi penyair karena keseharian di pesantren sudah dipenuhi dengan nilai-nilai religius, kepekaan sosial, dan kesederhanaan—semuanya merupakan bahan dasar yang kuat untuk karya sastra.

Kiai Faizi juga membagikan beberapa tips praktis menulis puisi, antara lain:

Membaca banyak karya sastra agar bahasa dan diksi menjadi kaya.

Menulis dengan kejujuran batin, tidak memaksa untuk indah.

Mengamati hal-hal kecil di sekitar, karena inspirasi sering muncul dari keseharian.

Merevisi tanpa takut kehilangan makna, sebab revisi adalah bagian dari penyucian kata.

Dalam sesi tanya jawab, peserta tampak begitu antusias. Zavi, salah satu peserta, bertanya tentang cara mengatasi kebuntuan dalam menulis puisi. Dengan senyum lembut, Kiai Faizi menjawab,

“Kalau buntu, berhentilah menulis dan mulailah membaca. Karena membaca itu seperti menarik napas sebelum mengembuskan kata.”

Sesi kemudian dilanjutkan dengan proses kreatif kiai Faizi selama ini. Peserta sangat antusias mendengarkan dan menulis apa yang beliau sampaikan dengan hikmat. 

Penutupan: Literasi Sebagai Jalan Santri Berkarya

Setelah dua hari pelaksanaan, Workshop Kepenulisan ini ditutup dengan acara sederhana namun bermakna. Acara penutupan kembali dipandu oleh Zhifa, dan diawali dengan pembacaan Ummul Kitab oleh Sila.

Sambutan pertama disampaikan oleh Nyai Hj. Ulfatul Hasna', S Ag, yang kali ini menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tanpa kendala berarti. Beliau berharap hasil dari workshop ini bisa menjadi bekal bagi para siswa untuk terus menulis, baik di media internal madrasah maupun media publik. Selaku Kepala MTs 1 Putri Annuqayah. Dalam kesempatan itu, beliau mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat, terutama para narasumber yang telah berbagi ilmu dan inspirasi.

“Menulis adalah bentuk ibadah. Karena dengan tulisan yang baik, kita bisa menyebarkan ilmu, menebarkan nilai, dan menjaga warisan keilmuan pesantren. Saya harap kegiatan seperti ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi tradisi,” tuturnya dengan suara lembut namun tegas.

Beliau juga berpesan agar Lembaga Pers Siswa (LPS) terus mengembangkan kreativitasnya dan menjadi wadah bagi siswa untuk menyalurkan bakat menulis dalam bentuk buletin, majalah dinding, maupun platform digital madrasah.

Menulis sebagai Cermin Jiwa dan Perjuangan

Workshop Kepenulisan yang berlangsung selama dua hari ini bukan hanya sekadar kegiatan pelatihan teknis menulis, tetapi juga wadah pembentukan jiwa literer di kalangan siswa MTs 1 Putri Annuqayah. Melalui kegiatan ini, para peserta belajar bahwa menulis bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan, tetapi juga sebagai sarana untuk berpikir kritis, menuangkan nilai keislaman, serta memperjuangkan gagasan.

Dengan semangat yang dibawa oleh para narasumber, seluruh peserta pulang dengan motivasi baru: menjadi penulis muda yang membawa cahaya dari lingkungan pesantren ke dunia luar.

Workshop ini menjadi bukti nyata bahwa budaya literasi masih hidup dan tumbuh subur di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah. Dari pena kecil para siswa, semoga lahir tulisan-tulisan besar yang akan mewarnai masa depan.@ (Rep. Shafwa, Ed. Zhevi dan Zhiva)

Berikan komentar anda

Ayo gabung!!!

Penerimaan Peserta Didik Baru

Kontak Kami Whatsapp